Selasa, 29 September 2009

SANPIO CUP 2009: Road To Brotherhood

SANPIO CUP 2009: Road To Brotherhood

Oleh Alfred Tuname

Setiap insan yang ada hingga hari ini terbentuk dari kepingan-kepingan kisah yang pernah tercecer dalam situs hidupnya. Kepingan-kepingan itu bergerak maju membentuk watak aktor. Dan “watak terpupuk dalam riak besar kehidupan”, jelas Wolfgang Goethe. Dalam bentangan kepingan-kepingan kisah itu juga, alumni sanpio, di Jogjakarta khususnya, mencoba menjejaki kembali kemesraan-kemesraan lama yang membentuk watak. Bukan hanya untuk dikenang tapi digenggam. Relasi fraternal yang dulu pernah ada dikandung kembali. Hangatnya persaudaraan menjadi warisan yang selalu terpatri dalam hati alumni sanpio. Mengutip penyair Prancis RenĂ© Char, “notre heritage n’est precede d‘aucun testament”(warisan (itu) ditinggakan kepada kita tanpa surat wasiat). Dari rahim inilah Sanpio Cup dilahirkan.

Panggung Sanpio Cup menjadi pentas pertemuan antara masa lalu (kenangan) dan harapan. Masa lalu sudah diletakan pada tempatnya. Bahwa pernah ada kenangan akan laga olahraga menyambut pesta famili (HUT Seminari Pius XII), setiap 08 September. Berikut banyak kepingan kisah dan tradisi yang digenggam para alumni. Di dalamnya terdapat senyum dan air mata, canda dan serius, masuk dan keluar, dan norak dan suci. Multi wajah itu (many faces) tidak dimaksudkan untuk membentuk manusia yang berkepribadian ganda. Jika realitas ini adalah pertambangan, maka biarkanlah ia memberikan ayakan kristal keadilan, penalaran, tanggung jawab dan keagungan kepada muridnya. Kristal ini menjadi warisan abadi alumni untuk hidup bersama. Sebab hidup adalah inter homines esse (berada di antara manusia-manusia), jelas Hannah Arendt dalam bukunya The Human Condition. Dengannya, imajinasi georafis telah berarak pada golgota imajinasi historis. Semua itu berawal dari lembah Kisol, Seminari Pius XII.



“Kemesraan ini janganlah cepat berlalu” boleh jadi adalah harapan komunitas Xpio (Ex-Sanpio Jogjakarta). Tetapi harapan itu bukan harapan satu-satunya. proyek persaudaraan yang kuat dan kental menjadi aspirasi, tujuan dan cita-cita (telos)dalam pesta sanpio cup 2009. Di tengah masyarakat modern yang gamang krisis, persaudaraan (brotherhood) terasa seakan kian rontok oleh tropis alienasi. Masyarakat Manggarai Yogyakarta pun terindikasi krisis tersebut. Fragmentasi masyarakat Manggarai Yogyakarta kian berarak pada polar yang ekstrim. Fragmentasi itu bukanlah suatu misteri big bang yang penuh misteri dalam realitas, melainkan resultante dari bertemunya faktor-faktor sosial yang terindentifikasi, diantaranya pemekaran Kabupaten Manggarai yang dianggap membelah budaya Manggarai. Sanpio Cup juga diselenggarakan untuk mengatasi ini. Sanpio Cup bukan semata untuk “error elimitation”, tetapi untuk menyelam kembali pada akar tradisi “neho teu ca ambo, neka woleng lako; neho muku cad pu’u, neko woleng curup; neho ipung cad tiwu, neko woleng wintuk”. Nilai budaya ini menjadi warisan yang selalu melekat dalam hati dan pikiran orang Manggarai. Nilai budaya tersebut tidaklah dihayati sekadar sebagai Gabe (warisan) tetapi diterima sebagai Aufgabe(tugas). Dan alumni sanpio mengambil tugas ini. Sebab alumni sanpio juga ahli waris sah kebudayaan Manggarai. Inilah sisi praksis Habermasian sanpio cup. alumni Sanpio bekerja untuk membangun kembali tiang-tiang persaudaraan dan berinteraksi dengan sesama orang Manggarai Yogyakarta dalam tindakan komunikatif. Dan dalam kaitannya dengan persaudaraan orang Manggarai Yogyakarta, sanpio cup (sepak bola) bukanlah “causa prima”, melainkan hanya berupa aproximasi (semakin mendekati)persaudaraan.

Akhirnya, selamat bertanding. Bermainlah dengan spirit confraternity and sportivity. Glad if you win and happy if you fail.

Viva Sanpio!!!
Jogja, 06 September 2009

Readmore.....

Senin, 21 September 2009

Kapan Lagi Kau Ke Jogja?

Kapan Lagi Kau Ke Jogja?

Aku pernah membeli sebuah buku. Sebuah buku cerita. Buku epik dari kisah yang lama tapi bertahan lama. Ceritanya banyak memberi inspirasi pada generasi yang lahir setelahnya. Semua tentang hiruk-pikuk ekonomi dan hasrat, politik dan kekuasaan, agama dan religiusitas, cinta dan eros. Realitas yang tak pernah lepas dari keberadaan mahkluk yang memproklamasikan diri sebagai homo sapiens. Actus yang menjadi bermakna karena dikisahkan. Kisah mendapatkan isinya dari tindakan serta pengalaman hidup mansia. Saat itu Filsuf Paul Ricoeur benar bahwa terdapat hubungan yang hakiki antara tindakan dan wacana.

Buku itu kubeli bukan untuk diriku. Aku membelinya untuk dihadiahkan pada seseorang yang datang dan pergi. Datang lagi dan pergi lagi. Peristiwa datang dan perginya menyulut perhatianku. Kedatangannya membasahi “Jogja-ku” dengan canda dan tawa. Seolah ada energi yang mengalir darinya datang memenuhi gelas kaca yang hampir kosong. Geliat realitas Jogja yang nyaman membuatnya selalu tersenyum. Senyum manis untuk Jogja. Senyum dari seorang putri dengan tahi lalat di pipi kanan sebelah mata.



Kepergiannya adalah penantianku. Kapan lagi kau kembali ke Jogja? Penantian itu adalah tangis yang enggan berakhir oleh derai. Katupnya akan merapat hingga waktumu tiba. Saat itu pertama kali kaki kirimu menginjak tanah warisan kraton setelah terakhir kau angkat kaki kirimu dari Jogja. saat itu di terminal Jombor.

“ROMA” adalah judul buku itu. Tebal dan hard cover. Di dalamnya, ada tertulis namamu. Ada sebait pesan dariku di sela buku itu. Bukan apa-apa, hanya sebuah catatan kaki akan permberian ini.

“seperti kota Roma, kini ia tinggal kenangan akan epik dan kejayaannya. Dan dengan ‘Roma’ ini juga, aku ingin menitipkan sebuah kenangan. Harapannya, tak ada lagi bentang jarak antara kita. Biarlah ruang itu dilipat. Dan satu hal yang penting, ada rasaku yang tertimbun dalam palung hati saat pertama aku melihatmu di Janti. Untukmu”.

Pesan itu kulis tangan dengan huruf miring. Huruf miring seperti tulisan para orang tua yang seakan ingin terbang pada harapan yang indah. Jelasnya, aku juga punya harapan untuk bisa melihat senyum manisnya lagi.

Seringkali, kopi malam mengantarku padanya. Aku tak ingin tidur lagi. Takut tak ada lagi ia. Seandainya aku bisa mengantarmu, waktu itu, aku ingin lebaran bersamamu di sana. Meski kutahu, kita tak merayakan lebaran. Kita mengisi lebaran. Sayangnya, aku hanya berhenti di sebuah pojok terminal. Melihatmu dan punggung Bus berlalu tanpa lambaian tangan.

Kapan lagi kau ke Jogja? Aku ingin memberimu “ROMA”. Semoga kau suka. Dan jika kau di sini, aku senang bisa melihatmu. Melihat kau yang manis. Meski melihatmu dari seberang sana. Dengannya, tak lagi kurajut segenap pagi dan kering yang ditelantarkan embun.

Jogja, 19 September 2009

Readmore.....

Kamis, 27 Agustus 2009

Hanya Bertanya

Hanya Bertanya

Jika kau membacanya
Bolehkah kutahu ceritanya?

Masihkah dia datang padamu?
Masihkan dia mengantarmu?
Masihkan dia bertanya kabarmu?

Masihkah dia dihatimu?

Jika tidak,

Bolehkah aku yang datang padamu?
Bolehkah aku yang mengantarmu?
Bolehkah aku bertanya kabarmu?

Jogja, 24 agust 2009
alfred tuname

Readmore.....

Imus Mo

Imus Mo

Hari itu tak lepas mataku
Memandang detil-detil senyum
Seperti bulan menuju purnama
Sangat manis

Lelah merampas hangatmu
Tapi senyum manismu lekat
Pada bentang wajah
Pesona yang tak pernah luntur

Jogja, 23 agust 2009
alfred tuname

Readmore.....

Canal of Heart

Canal of Heart

Derai rasa masih mengalir
Terus dan selalu terukir
Kau dalam hati kemarin
Esok dan kini

Serpihan jejakmu masih di sini
Di dekatku, begitu dekat
Meski kau di sana
Entah buat apa

Dan jika kau di sini
Aliran itu begitu kencang
Ingin mengisi labirin hati
padamu yang tak lagi lajang

Jogja, 22 agust 2009
alfred tuname

Readmore.....

Kamis, 20 Agustus 2009

Puisi-Belis

Puisi-Belis

Jika bukan bagian dari hidup aku ingin sebagai puisi. Puisi hidup. Hidup puisi. Indah dalam apapun. Ada riang dalam duka. Pun air mata dalam senyum. Cukup dalam apapun. Begitu sederhana. Hanya butuh seuntai papirus dan tinta. Itu saja. Semua begitu indah. Anugerah di atas tanah.

Bekerja terlalu keras. Tak mau aku. apakah hidup harus keras? Seolah hidup untuk roti. Seperti robot. Tak sadar eksistensi. Apalagi kalau ribah-nya ludes dilalap belis. Termakan adat yang “rupiah minded”.

Aku khawatir ragaku. Jiwaku. Khawatir tak lagi berpuisi. Saat hidup setelah nikah. Nanti.

Jogjakarta, 18 agust 2009
Alfred Tuname

Readmore.....

Juita

Juita

Juita, izinkanlah aku selalu memuji dan memujamu. Mengangkatmu pada langit singgasana bidadari. Sebab memang kau pantas dengan itu. Biarkan lirik yang tertata membentuk anak tangga untuk kau langkahi. Jutaan syair tak dapat lenyap untukmu. Selalu tercipta.

Mungkin kau tak pernah suka dengan mazmur ini. Jijik kau membacanya. Ilusio-fantasia. Atau apapun itu. Jika demikian, itu berarti aku sedang memuji lukisan Sang Khalik yang terindah. Kebetulah itu lukisan itu dirimu. Disadari atau tidak. Sungguh menawan.

Aku selalu menulis tentangmu. Memberi bingkai pada lukisan Sang Khalik. Dengannya, aku merasa menang atas rasa yang kadang selalu tertahan di ujung lidah. Aku tak mau seperti Chairil yang merasa hidup hanya menunda kekalahan. Sebab aku tak mau jauh dari cinta. Cinta yang tak terucap kata.

Jogjakarta, 18 agust 2009
Alfred Tuname

Readmore.....

Suka

suka

Sering mata membenamkan sekutum rasa pada langit-langit matamu. Pada dua lembaran mata yang terindah pernah tercipta. Mata yang sayup-sayup tertunduk saat beradu. Ada kilatan rasa yang pecah saat dua emosi saling silang. Tibalah ia pada genangan suka.

Suka itu terus menyelam ke dalam pangkal danau. Ruang yang biasa kau gerakan kaki dan jemarimu. Lincah gerakmu. Sebuah tarian manis yang kau suguhkan pada realitas. Hari-harimu. Selain juita, hati lembut dan bijak. Permata itu tersembunyi di balik batu dalam danau hidupmu.

Juita, lihatlah malam yang selalu menguntit ruas-ruas wajahmu yang kau tutup dengan sekumpul derai poni di dahimu. Bintang malam pun berlomba menyentuh lembut pipimu. Bahkan bulan lengkung iri melihat lekuk bibirmu. Saat itu, ketika kau tersenyum.

Besok, kuajak kau meniup luluran hujan. Hingga butir-butirnya menjadi pelagi di atas danaumu. Hari itu, mentari tersenyum melihat kita.

Jogjakarta, 18 agust 2009
Alfred Tuname.

Readmore.....

Jumat, 31 Juli 2009

Balada Comodoensis


Aku tak punya tangan
Tak juga punya pencil
Tak ada juga surat kecil
Untuk bapak presiden
Dan mentri dan dinastinya

Biarlah aku berteriak dalam kehimpitan
Mulut bakteriku tak bisa diam
Aku tak mau pergi. Tak mau pindah
Aku ingin rumahku. Manggaraiku.
Tanah ema agu ende.

Aku ingin hidup damai. Tumbuh dengan caraku.
Memantau. Mengejar. Memburu. Eureka.
Makan dan minum di tanah ayahku.
Kembang dengan caraku. Kawin-kawan

Aku tak mau seperti TKI
Yang digiring ke tempat pembataian
Atas nama devisa
Aku tak mau seperti Manohara
Yang diseret ke kraton, kesultanan
Dipukul, ditendang, disuntik
Atas nama pemurnian dan cinta
Alias safety bin langgeng

Oh… domine, salva me. Selamatkan aku
Dari tangan-tangan pencuri. Penyamun.
Dan bangsat-bangsat pariwisata.
Serta scientist tuyul, hamba uang.

Sendengkan telingamu. Aku ingin bernyanyi.
Pulangkan aku pada orang tuaku. Ayahku-ibuku.
Lebih baik di Manggarai, rumahku sendiri.

Jamal Al Khan, 31 juli 2009

Readmore.....

Molas


Kala angan itu mendera
Menusuk tiang-tiang keakuan
Saat itu wajah benderang
Mengisi langit-langit malam

lukisan indah terbingakai
pada lengkung bibirmu
seolah kau sedang menyuap
ribuan titik membun
pada jiwa yang menangkap senyum

Jamal Al Khan; jogja, 28 juli 2009

Readmore.....